Bab Lima Puluh Satu: Selamat dari Bahaya Besar
Segala sesuatu di dunia ini memang demikian ajaibnya. Mereka yang sudah ditakdirkan celaka, bahkan hanya meneguk air pun bisa tersedak dan meregang nyawa; sementara yang belum waktunya mati, meski tubuhnya telah terpotong-potong, mungkin saja masih dapat hidup kembali. Tak ada penjelasan yang masuk akal, semuanya hanya bisa disandarkan pada takdir masing-masing.
Qin Yibai yang terkena telak pukulan dari lelaki bermarga Ma itu, dalam sekejap merasakan seluruh organ dalamnya seperti hancur berkeping-keping. Darah segar bercampur serpihan organ dalam muncrat deras tanpa dapat ditahan, membasahi sisa penglihatannya laksana hujan darah.
Saat tubuhnya jatuh ke lautan, di bawah balutan air laut yang dingin, hanya seberkas sisa kesadaran Qin Yibai yang masih mampu merasakan dunia di sekelilingnya. Anehnya, ia merasa sekitarnya begitu segar, bersih, bahkan… sedikit nyaman.
Tubuhnya terus tenggelam ke dasar lautan, cahaya redup di permukaan kian menjauh, seakan dunia di ujung lain sana. Pusing berputar semakin hebat, dunia seolah berputar sangat cepat, hingga pada detik-detik terakhir kesadarannya, Qin Yibai, bersama dunia yang memikul tubuhnya, seakan tersedot ke dalam suatu alam yang tak dikenal.
Tak tahu berapa lama waktu berlalu, Qin Yibai yang kehilangan kesadaran tiba-tiba mendapatkan kembali seberkas kewarasan. Begitu membuka mata, ia mendapati dirinya diselimuti kabut pekat yang memenuhi setiap sudut ruang.
Bersamaan dengan kembalinya setitik kesadaran, tubuhnya langsung terasa tertindih berat! Sebuah gaya tak kasatmata menekan seluruh raganya, membuat tulang-tulangnya berderak seperti hendak meledak. Tekanan itu masih terus membesar, seolah tak akan berhenti sebelum ia benar-benar remuk menjadi abu.
Jika keadaan itu terus berlanjut, Qin Yibai pasti akan menjadi segumpal daging hancur dalam sekejap! Saat ia berusaha bertahan dengan sekuat tenaga, tiba-tiba suara lirih seperti dengung nyamuk terdengar di telinganya, “Belum juga jalankan latihan tubuh, menunggu apa lagi!”
Bingung dengan petunjuk itu, Qin Yibai sempat termenung, “Latihan? Latihan apa?” Namun suara samar itu tak memberi jawaban lagi.
Di bawah tekanan yang semakin menggencet, Qin Yibai mulai limbung, kesadarannya yang baru pulih kembali mengabur. Namun di tengah kekaburan itu, sebuah alunan irama aneh tiba-tiba muncul dengan sendirinya di benaknya.
“Jangan-jangan… ini gerakan tubuh aneh itu?” Ia hampir menampar dirinya sendiri. Berkali-kali ia selamat berkat keajaiban latihan tubuh itu, mengapa saat genting seperti ini justru terlupa? Bukankah itu cari mati namanya!
Tak mau membuang waktu, Qin Yibai segera menjalankan latihan pernapasan sesuai irama gerakan tubuh aneh tersebut. Seiring latihan berjalan, tekanan di sekelilingnya memang masih bertambah, namun rasa sakit perlahan berkurang. Setelah sembilan putaran napas, nyeri di seluruh tubuhnya malah menghilang! Ketika seluruh rasa sakit benar-benar lenyap, pikiran Qin Yibai yang telah menyatu masuk ke dalam suatu keadaan batin yang misterius dan agung—tanpa wujud, tanpa bentuk.
Tanpa dewa! Tanpa pikiran! Tanpa aku! Tanpa dia!
Tanpa langit! Tanpa bumi! Tanpa jalan! Tanpa batas!
Tak tahu berapa lama waktu berlalu, mungkin seribu, sepuluh ribu tahun, atau hanya sekejap mata!
Kini, Qin Yibai tak mampu membedakan apakah ia masih hidup di dunia nyata atau tengah bermimpi. Seberkas kesadaran yang kembali, dalam kebingungan, merasakan segala di sekelilingnya, seolah tenggelam dalam kehangatan rahim ibu.
Gelombang-gelombang aneh namun hangat terus melilit dan menekannya, seperti pelukan tangan ibu, lembut dan nyaman. Semakin lama, persepsinya semakin tajam, kesadarannya kian jelas. Saat pikirannya benar-benar pulih, ia akhirnya tahu, dirinya berada di suatu ruang yang sungguh aneh.
Dalam persepsi Qin Yibai, sekelilingnya diliputi gas kental yang hampir seperti zat padat. Di dalam gas itu, tak terhitung titik-titik cahaya keemasan dan perak berputar, menari, melesat, dan meloncat, semuanya berporos pada dirinya, seolah mengikuti pola lintasan yang unik! Membentuk pita-pita cahaya indah nan megah.
Dari luar, ia tampak seperti terbungkus dalam telur raksasa bercahaya emas dan perak.
Seiring perputaran bintang-bintang cahaya itu, tekanan dari segala arah kembali menimpanya, menghadirkan lagi rasa mimpi nan hangat itu. Rupanya, rasa keibuan yang samar di tengah ketidakjelasan tadi berasal dari bintang-bintang kecil itu!
Tanpa sadar, Qin Yibai merasa terharu, seolah memandang orang terkasih sendiri. Anehnya, bintang-bintang kecil itu pun seakan merasakan ketulusan dan keakrabannya, mereka menjadi semakin ceria dan riang, laksana anak-anak nakal yang mendapat pujian orang tua.
Tiba-tiba, muncul perasaan aneh dalam kesadarannya. Meski bintang-bintang keemasan dan perak itu tampak sama, tetapi Qin Yibai benar-benar bisa merasakan kegembiraan, kehangatan, dan kedekatan mereka. Perasaan ini aneh, namun begitu nyata!
Seakan waktu berhenti berlalu, gas kental di sekelilingnya semakin menipis, sementara bintang-bintang kecil itu berputar semakin cepat! Tekanan yang datang terus membesar, seperti banjir menerjang, hingga ia hampir tak sanggup menahan, seolah tubuhnya akan tertekan menjadi satu titik.
Rasa sakit dari kedalaman jiwa menjalar ke seluruh pelosok, namun bersamaan itu, dari lubuk jiwanya juga tumbuh perasaan seolah terhubung darah dengan ruang aneh ini.
Semakin besar tekanannya, semakin nyata pula perasaan itu. Hingga akhirnya, segala gelombang dalam ruang ini seolah berasal dari tubuhnya, bermula dari kedalaman jiwanya. Kini ia sungguh merasa tak berjarak dengan ruang itu, terhubung bagai darah dan daging!
Saat itu, perubahan aneh pun terjadi!
Titik-titik cahaya emas dan perak yang berputar cepat, kini seperti sekumpulan anak kecil yang menemukan ibunya, berlarian ke arah Qin Yibai dengan penuh semangat dan tanpa ragu.
Dari luar, cahaya-cahaya itu membalut tubuhnya membentuk jubah indah bercahaya emas dan perak yang memancar ke segala arah. Titik-titik cahaya itu menembus permukaan tubuhnya, lenyap dalam sekejap, membawa rasa sakit yang menusuk seperti jarum baja menembus kulit dan menancap dalam daging!
Di tengah rasa sakit yang luar biasa, energi aneh tumbuh dan mengalir dalam tubuhnya, makin lama makin kuat, merambah seluruh raganya. Tubuhnya menggelembung dan membesar, seolah sebentar lagi akan meledak, kulit dan dagingnya terkoyak!
Andai saja tidak terjadi keseimbangan tipis antara tekanan dari luar dan daya dorong dari dalam, mungkin tubuhnya sudah hancur luluh.
Semua perubahan itu terjadi hanya dalam sekejap.
Begitu semua titik cahaya masuk ke tubuh Qin Yibai, tekanan dari luar mendadak lenyap. Energi dalam tubuhnya telah mencapai puncak, sedikit mengerut ke dalam seperti ledakan bom hidrogen, lalu meledak! Gelombang energi dahsyat mengalir keluar, membentuk badai yang tak tertahankan, menderu menembus tubuh Qin Yibai.
Sebuah raungan menggema keluar dari mulutnya, penuh keputusasaan dan amarah. Ia enggan! Ia tak rela hancur berkeping-keping begitu saja!
Bersama raungan itu, semburan energi mengalir keluar dari mulutnya, dan badai energi dalam tubuhnya seolah menemukan celah. Namun, itu hanya setetes di lautan, tak mampu menahan gempuran badai energi yang terus mengamuk di tubuhnya. Tubuhnya membengkak seperti balon, seolah sentuhan kecil saja akan membuatnya meledak berkeping-keping!
Namun pada saat itulah, di seluruh titik-titik bawaan alami tubuhnya, tiba-tiba muncul cahaya bintang tak terhitung jumlahnya, menutupi seluruh tubuhnya. Ternyata, bintang-bintang emas dan perak yang masuk ke dalam tubuhnya telah menyatu dengan titik-titik vital itu.
Energi liar itu pun akhirnya menemukan jalan keluar, mengalir deras melalui titik-titik bercahaya di tubuhnya, menyapu seluruh ruang.
Dengan Qin Yibai sebagai pusat, ruang di sekelilingnya terdorong dan meluas tanpa batas oleh badai energi, suara retak terdengar di mana-mana. Retakan ruang bermunculan, lalu hancur berantakan seperti daun kering ditiup angin.
Penghalang ruang lama pun lenyap, dan sebuah dunia baru perlahan terbentuk.
Di tengah badai energi yang menggila itu, meski tubuh Qin Yibai tak hancur menjadi debu, kesadaran barunya larut dalam guncangan ruang yang meremukkan segala, tenggelam dalam keheningan abadi.