Episode 128: Tangan Kejam Menghancurkan Bunga
"Cih!" Suara lirih terdengar, udara bergetar dan terbelah oleh tebasan pedang Duan Yue. Kekuatan Duan Yue kini telah meningkat pesat. Seiring dengan latihan yang tiada henti, Ilmu Pedang Roh Suci yang ia pelajari perlahan disederhanakan menjadi teknik membunuh yang paling lugas. Mungkin, inilah wujud asli dari Ilmu Pedang Roh Suci yang sebenarnya.
Menghadapi tebasan pedang Duan Yue yang bagaikan karya agung seorang dewa, pria itu tidak bergeming. Ia tiba-tiba menjentikkan jarinya ke arah kilatan pedang Duan Yue. Di bawah jentikan itu, cahaya pedang Duan Yue hancur seketika. Duan Yue melompat mundur untuk menjaga jarak, namun pada detik berikutnya, sosoknya kembali muncul di hadapan pria itu, dengan ujung pedang yang kini menempel tepat di tenggorokannya!
Tiba-tiba, sebuah pendar cahaya hitam berputar cepat di tenggorokan pria itu. Pedang Duan Yue menghujam tepat pada aliran cahaya hitam tersebut. Cahaya hitam itu berputar dan bergulung, membawa kekuatan rotasi yang sangat aneh. Begitu bersentuhan, cahaya pedang Duan Yue meledak. Duan Yue segera menghindar, meninggalkan bayangan semu yang seketika tercabik oleh tebasan pedang lawan.
"Hebat, Penguasa Kota Batu Hitam. Rupanya, aku masih meremehkanmu!" Pria itu menatap Duan Yue dengan energi yang terus membuncah dari tubuhnya. Ia melangkah maju dan melepaskan pukulan bertenaga dahsyat ke arah Duan Yue. Gelombang energi yang meraung-raung segera menyelimuti sosok Duan Yue, membuatnya bergetar sejenak. Udara seakan berbalik dan memadat, mengunci pergerakannya.
"Wung!" Suara dengungan pedang tiba-tiba membelah angkasa. Gelombang suara samar menyebar luas, sementara ujung pedang di tangan Duan Yue bergetar hebat. Aura pedang tak kasatmata memadat menjadi hujan cahaya yang beterbangan, menyerupai sungai bintang yang tumpah, berkelap-kelip dalam kebingungan sebelum menusuk tepat ke tubuh pria itu. Pria itu terhenyak, raut ketakutan melintas di wajahnya. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, tekanan pedang yang berat telah menguncinya. Untuk sesaat, tatapannya menjadi kosong, namun di saat berikutnya, ia segera melesat mundur dengan serangkaian lompatan cepat.
"Ingin lari? Sayangnya, sudah terlambat," dengus Duan Yue dingin. Niat membunuh yang tajam terpancar dari matanya tanpa sedikit pun disembunyikan. Sosoknya melesat, menempel ketat di depan pria itu. Pedang di tangannya, yang diselimuti aura dingin, merobek udara dan menusuk dengan kilat.
"Prak!" Percikan darah muncrat, dan di udara, darah itu membeku menjadi es. Pedang Duan Yue tidak meleset sedikit pun, menembus tepat ke tenggorokan pria tersebut.
"Cih!" Sekali lagi, kilatan darah melintas, diikuti hawa dingin yang membeku di udara. Pedang Duan Yue telah dicabut, dan dalam sekejap, ia sudah melompat mundur sejauh puluhan meter. Saat menoleh, ia melihat pria itu memegangi tenggorokannya dengan tatapan nanar, lalu perlahan tumbang.
Namun, tepat pada saat itu, terdengar bunyi "wus" yang lirih. Sebilah benda tajam melesat dari kejauhan dengan presisi waktu yang luar biasa. Lawan memanfaatkan momen saat perhatian Duan Yue terfokus pada pria yang baru saja ia kalahkan. Begitu Duan Yue menyelesaikan serangannya, senjata rahasia itu sudah sampai di sisinya, tak memberinya ruang untuk menghindar.
Dengan suara teredam, tubuh Duan Yue bergetar. Ia perlahan menoleh, wajahnya dipenuhi niat membunuh yang pekat saat menatap ke arah datangnya senjata tersebut. Tak jauh dari sana, seorang wanita cantik yang anggun berdiri menatapnya dengan dingin. Di tangannya, sebilah belati perak panjang memancarkan cahaya yang ganjil. Niat membunuh yang dingin memancar dari tubuh wanita itu tanpa sedikit pun emosi.
"Kau juga dari Serikat Pembunuh, ya? Aku tidak pernah memiliki dendam dengan kalian, mengapa kalian merancang jebakan untuk membunuhku?" Meski terluka, suara Duan Yue terdengar lemah, namun ia tetap bertanya pada wanita dingin yang jelita itu.
"Karena kau telah menangkap orang yang seharusnya tidak kau tangkap, maka, kau harus mati!" Hanya itu kata-kata wanita tersebut. Sikapnya sama persis dengan pria tadi. Begitu ucapannya usai, belati perak di tangannya telah melesat mendekati Duan Yue.
Duan Yue melangkah mundur tanpa suara, tangan kirinya menopang. Pedang Es Hitam miliknya muncul di udara, diselimuti cahaya dingin yang tajam, menahan belati wanita itu.
"Tring!" Suara denting logam yang memekakkan telinga terdengar. Tubuh Duan Yue tetap kokoh bagaikan gunung, sementara sang wanita terkejut luar biasa mendapati kekuatan besar yang menghantamnya balik.
"Tidak mungkin!" serunya terkejut. Ekspresi kejam meluap di wajahnya saat ia melompat mundur sejauh belasan meter. "Kau terkena Jarum Naga Beracun milikku, bagaimana mungkin kau baik-baik saja?!"
Duan Yue mendengus dingin, tubuhnya bergetar, dan seberkas cahaya dingin melesat dari punggungnya, menancap di pohon besar tak jauh dari sana. Pohon itu seketika berubah warna dari hijau menjadi kuning, lalu layu menjadi kayu mati. "Racun yang hebat. Benar kata pepatah, hati wanita adalah yang paling beracun." Di punggungnya, hanya pakaiannya yang robek. Di titik tempat jarum itu mengenai, hanya ada bekas putih kecil yang membuktikan bahwa ia memang sempat terkena serangan tersebut.
"Cari mati!" Mendengar dirinya dihina di depannya sendiri, wanita itu murka. Seketika, sosoknya tampak terpecah menjadi ribuan bayangan. Muncul sosok-sosok wanita yang identik dengan berbagai rupa: ada yang memikat, dingin, haus darah, hingga menggoda. Mereka melangkah mendekati Duan Yue dengan irama yang beragam—ceria, berat, cepat, hingga mematikan. Langkah mereka tampak lambat, namun di balik kelambatan itu tersimpan keanehan yang tak terbatas, seolah waktu telah membeku. Namun, dalam sekejap, ribuan sosok itu kembali menjadi satu wanita dingin yang jelita, dengan belati perak yang mengarah tepat ke dahi Duan Yue.
Duan Yue mencibir, tangan kirinya terangkat. Jari telunjuk dan tengahnya berkilat dengan bayangan cahaya. Saat belati perak itu hanya berjarak satu inci dari dahinya, ia menjepitnya dengan mantap. Pedang di tangan kanannya, yang diselimuti cahaya pedang yang tajam, menebas lurus ke arah dada wanita itu.
Bagi orang biasa, menghadapi wanita secantik itu mungkin akan membuat niat melawan mereka memudar. Namun, bagi pria tangguh seperti Duan Yue, baik pria maupun wanita, cantik maupun buruk rupa, selama mereka berdiri di hadapannya sebagai lawan, maka hanya ada satu pilihan: dingin, kejam, dan membasmi hingga ke akar-akarnya.
Wajah cantik wanita itu berubah ketakutan. Ia segera melepas belati peraknya dan mencoba menghindar, namun terlambat. Meski berhasil menghindari serangan mematikan, tangan kirinya putus tertebas oleh pedang Duan Yue.
Darah merah segar menyembur ke udara, namun langsung membeku menjadi serpihan es darah yang jatuh berserakan ke tanah dengan suara gemerincing.
"Aaa!" Wanita itu menjerit kesakitan. Wajahnya berubah bengis, tak ada lagi kecantikan yang tersisa; ia tampak seperti iblis yang merangkak keluar dari neraka. "Bunuh dia untukku!"
Seiring perintahnya, sembilan sosok muncul dari udara. Mereka semua adalah ahli tingkat master yang telah mencapai ranah Membentuk Inti (Bao Dan)—keberadaan yang biasanya sulit ditemui, namun kini tampak begitu murah.
Sembilan sosok itu tiba dalam sekejap. Terdengar suara denting pedang yang ditarik secara serempak. Sembilan kilatan cahaya pedang menerjang berbagai titik vital tubuh Duan Yue.
"Cahaya kunang-kunang, tak layak untuk dilawan!" Duan Yue mendengus. Seketika, cahaya pedang yang masif meledak. Aura pedang yang tak terhitung jumlahnya membuat kesembilan sosok itu terpaksa mundur. Mereka bergerak dengan formasi yang saling mendukung, membentuk sebuah formasi misterius. Baru pada saat itulah sosok Duan Yue terlihat jelas, terbungkus dalam cahaya pedang perak yang menyilaukan!
"Formasi pedang? Menarik!" Kilatan dingin melintas di mata Duan Yue. Ia mengayunkan pedangnya ke udara, bergerak cepat menusuk ke arah sembilan orang tersebut. Sembilan orang yang membentuk formasi itu segera mengayunkan pedang mereka, menyasar titik-titik vital Duan Yue.
Pedang Es Hitam di tangan Duan Yue bergetar hebat, memukul mundur sembilan pedang lawan dengan satu gerakan. Saat ia bergerak, pedangnya menyapu tenggorokan mereka. Di bawah cahaya pedang yang kuat, mereka mundur dengan cepat, sadar bahwa kekuatan Duan Yue jauh di atas mereka dan tidak berani menahan serangan secara langsung.
Niat membunuh terpancar di wajah Duan Yue. Ia menyapu pedangnya secara horizontal, memecahkan energi lawan. Namun, kesembilan orang itu segera memperluas formasi, mengepung Duan Yue di tengah, dan menyelimutinya dengan cahaya pedang yang pekat.
"Pedang Kelima Belas!" Dalam sekejap, hamparan bintang tampak samar. Pedang di tangan Duan Yue melambat, membentuk bayangan cahaya yang menutupi ruang di depannya. Tiba-tiba, sosoknya terbelah menjadi sembilan, masing-masing bergerak secepat kilat mengepung ruang di sekitarnya. Ledakan cahaya pedang menghancurkan setiap serangan energi yang datang!
"Matilah!" Pergerakan Duan Yue semakin cepat. Sembilan bayangan itu kembali menyatu dalam sekejap. Dengan satu teriakan nyaring, cahaya pedang perak memadat di ujung pedangnya. Saat pedang itu melintas, percikan darah muncul, uap darah segera membeku menjadi es. Sosok Duan Yue melesat keluar, mengayunkan pedang secara horizontal, dan menusuk langsung ke arah wanita cantik itu.