Pada era senja peperangan, di mana baja bergemuruh dan kapal-kapal raksasa saling bersaing di lautan, seorang yang terlahir kembali membunuh seorang penjelajah dari dunia lain, merebut kekuatan ajaib
Zhou Rui perlahan membuka matanya. Saat ia melihat jelas lingkungan di sekitarnya, guratan kesedihan pun tampak di wajahnya.
“Apakah ini mimpi lagi?”
Menatap kamar yang begitu akrab namun terasa asing dalam ingatannya, Zhou Rui segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres—ini terlalu nyata.
Benar, bukankah dirinya sudah dieksekusi mati oleh orang-orang Suku Singa?
Ia bahkan masih bisa merasakan detik peluru menembus belakang kepalanya. Pada saat itu, seolah tak ada rasa sakit, hanya kelegaan yang tersisa.
Andai saja di masa mudanya ia tidak ceroboh dan bertindak semaunya, mungkin keluarga Zhou di Ganyang tak akan hancur berkeping-keping.
Dirinya memang seorang pendosa yang seharusnya sudah lama tidak layak hidup, hanya saja tekad membalas dendam di hatinya membuat ia bertahan hidup belasan tahun lagi.
Sayangnya, perjuangan terakhir itu hanya berbuah keputusasaan.
Zhou Rui dengan gemetar mengangkat tangan kanannya.
Tangannya masih utuh, belum digigit habis oleh Serigala Iblis yang panas membara!
Ia meraba wajahnya.
Hangat! Ia benar-benar bisa merasakan kehangatan!
“Pak!”
Zhou Rui menampar pipinya sendiri.
Sakit! Sungguh sakit!
Bukan mimpi! Ini bukan mimpi!
Ia hidup kembali!
Dengan tergopoh-gopoh, Zhou Rui berlari ke depan lemari besar di kamar tidurnya. Saat melihat wajah muda di cermin pintu lemari, tubuhnya membeku.
“Tuan Muda Kedua, Anda sudah bangun. Apakah ingin pelayan mengantarkan sarapan sekarang?”
Dari ruang tamu yang terhubung dengan kamar tidur, te