Bab 84: Burung Roh "Ayam Amarah Cerah"
Sementara itu, di perkampungan suku Miao, lautan serangga beracun yang sebelumnya menutupi seperti gunung dan samudra kini telah lenyap. Sekelompok pemuda dan pria dewasa berpakaian adat tengah sibuk membawa air untuk memadamkan sisa-sisa api. Ada pula yang sedang mengumpulkan anak panah yang jatuh berserakan di tanah.
Di luar gerbang desa, sekelompok orang yang jelas memiliki kedudukan tinggi berdiri mengawasi kejauhan. Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kekar dengan lengan telanjang bergegas datang.
“Lapor Dukun Agung, Ketua Suku, para pendatang itu sudah berhasil kami usir.”
“Deka, mereka bukan orang sembarangan. Bawa lebih banyak orang untuk berjaga di mulut lembah. Jika ada yang mencurigakan, segera kirim utusan untuk melapor,” perintah seorang lelaki tua yang tampak berwibawa, mengenakan pakaian indah dengan sebilah pisau pendek perak tergantung di pinggangnya.
“Baik.”
Deka pun segera pergi.
Orang tua itu kemudian berpaling. “Dukun Agung, serangga beracun kita sudah banyak berkurang kali ini. Mohon Anda menambahkannya lagi.”
Dukun tua berwajah muram dengan tongkat rotan di tangan, rambut memutih, dan lambang kelabang ungu di keningnya mengangguk pelan. “Serahkan saja pada saya, Ketua Suku tak perlu khawatir.”
“Itu bagus. Tapi ayam Amarah Cerah milikmu itu sebaiknya segera diurus. Sejak awal sudah belasan kali kejadian seperti ini. Walau perkampungan Emas Angin kita cukup kuat, tapi semua orang harus hidup. Jika terus-menerus begini, sawah ladang jadi terbengkalai, semua orang bisa kelaparan.”
Wajah Dukun Agung yang semula suram semakin gelap. Namun ia tahu ucapan itu benar.
“Akan saya pikirkan.”
Setelah berkata demikian, ia pun berbalik meninggalkan tempat itu. Seorang pemuda dengan tato kelabang di kedua pipi cepat-cepat mengikuti dari belakang.
Mereka melewati jalan panjang hingga tiba di pusat desa. Di sana terdapat sebuah pelataran batu biru yang luasnya sekitar dua hingga tiga ratus meter persegi. Di sisi utara pelataran berdiri sebuah kuil yang seluruhnya terbuat dari batu biru.
Melangkah naik ke undakan, membuka pintu kuil, aroma dupa cendana yang pekat langsung menyergap. Di tengah pendar lampu minyak, tampak sebuah patung perempuan enam lengan setinggi dua meter, masing-masing tangan menggenggam ular, katak, dan makhluk beracun lainnya, duduk tenang di relung altar.
Dukun Agung melangkah mendekat, menyalakan tiga batang dupa, memberi hormat, lalu menancapkannya pada wadah dupa. Setelah menatap patung itu sejenak, ia berkeliling melewati altar dan keluar lewat pintu samping.
Tampak sebuah halaman luas hampir dua ratus meter persegi di depan. Di tengah berdiri bangunan utama, di kiri-kanan terdapat kamar-kamar tambahan.
“Guk guk...!”
Suara berat bergema dari sudut halaman. Pandangan pun terarah ke sana.
Sebuah kandang besi besar terlihat, panjang-lebar-tingginya lebih dari tiga meter, jeruji baja setebal lengan anak kecil dengan jarak antar jeruji tak lebih dari dua puluh sentimeter. Bekas cakaran yang kasar memenuhi tiap jeruji, beberapa bahkan nyaris setengah inci dalamnya.
Seekor ayam jantan raksasa tengah bertengger di dalam kandang itu.
Jengger merah sebesar bola sepak berdiri tegak, warnanya memerah seperti api menyala. Sepasang mata emasnya memancarkan cahaya tajam penuh wibawa. Paruh melengkungnya berkilauan seperti logam. Lehernya panjang, bulunya berkilau indah. Cakar berwarna keemasan mencengkeram kuat batu biru. Bulu ekornya panjang, rapi, dan elok.
Makhluk ini jelas bukan ayam sembarangan.
Dialah Ayam Amarah Cerah.
Saat Dukun Agung menatap, ayam itu pun balas menatap dengan sorot mata penuh kecerdasan, jauh berbeda dari binatang biasa.
Dukun Agung melangkah mendekat, membuat beberapa gerakan tangan. Ia mulai melantunkan mantra.
Tak lama, suara desis memenuhi udara. Kelabang-kelabang dari berbagai ukuran merayap dari segala arah.
Ayam Amarah Cerah berdiri tegak, membuka paruh emasnya. Kelabang-kelabang itu seolah terhisap masuk seperti air mengalir.
Tak sampai seperempat jam, ratusan bahkan ribuan kelabang sudah masuk ke perutnya.
Setelah kenyang, sayapnya mengepak, kepala menjulur keluar dari kandang.
Kokoknya membahana, menggema hingga menggetarkan seluruh lembah.
Dalam sekejap, semua racun dan kemalangan seakan lenyap. Benar-benar seperti pepatah, “Kala ayam jantan berkokok, dunia tersinari terang.”
Menyaksikan aura Ayam Amarah Cerah yang kian menggetarkan, sorot mata Dukun Agung dipenuhi kegembiraan.
Dulu, secara kebetulan ia menemukan burung ajaib ini di pegunungan. Dengan penuh sukacita ia membawanya pulang dan selama bertahun-tahun memberi makan ramuan dan hewan beracun. Kini makhluk itu makin luar biasa.
Jika tidak ditekan, hampir saja berubah menjadi makhluk gaib sepenuhnya.
“Guru, kalau kandang ini tak segera diganti, mungkin ia tak akan mampu menahannya lagi,” ujar pemuda yang sejak tadi mengawasi penuh rasa takut, melihat Ayam Amarah Cerah membenturkan kandang hingga miring.
Sejak pertama masuk berguru, ia pernah hampir dipatuk hingga kepalanya luka oleh ayam itu. Sejak itu, ia tak pernah lagi berani mendekat ke kandang.
“Aku tahu apa yang harus dilakukan,” ujar sang guru sambil melemparkan sebuah botol porselen.
“Bawalah pil ini, pergi panggil hewan-hewan beracun di gunung untuk digunakan desa.”
Pemuda itu mengiyakan dan segera bergegas keluar.
Dukun Agung masuk ke rumah utama.
Perabot di sekitarnya sederhana, di sisi kanan dekat dinding ada sebuah dipan batu. Di atasnya bukan kasur, melainkan tikar meditasi.
Dekat jendela terdapat meja panjang yang di atasnya tertata alat tulis dan beberapa jimat gambar tangan.
Di sisi kiri ruang terdapat sembilan tempayan tanah liat, masing-masing setinggi sekitar satu setengah meter, berdiameter satu meter. Bagian atas tertutup lapisan tanah liat tebal, dilengkapi segel jimat. Tidak jelas apa isinya.
Di tengah ruangan, berdiri sebuah periuk perunggu setinggi satu meter dengan empat kaki. Dinding luarnya dipenuhi ukiran makhluk aneh, tampak kuno dan misterius.
Begitu Dukun Agung menutup pintu, seberkas kilat ungu melesat dari dalam periuk, dalam sekejap sudah melayang ke atas kepalanya.
Baru setelah diam, tampak jelas seekor kelabang ungu sepanjang tiga puluh sentimeter, dengan garis emas tipis membentang di punggungnya, memberi kesan luar biasa.
Dukun Agung membuka telapak tangan, kelabang itu melata turun ke lengannya. Ia mengelus kepala binatang itu dengan penuh kasih.
“Nanti setelah meneguk darah hati Ayam Amarah Cerah, kau pasti makin kuat, bahkan bisa menandingi Kelabang Enam Sayap.”
Kelabang ungu itu seolah mengerti, segera merayap di telapak tangan, menggerakkan sungutnya dengan girang.
***
Tersembunyi di pegunungan, tentu saja binatang buruan melimpah. Liu Changfan dan dua rekannya dengan cepat mendapatkan tiga ekor ayam hutan, seekor kijang, dan seekor kambing gunung.
Semuanya mereka panggang di atas api.
Ternyata keahlian memasak Liu Changfan dan kawan-kawan di luar dugaan, apalagi mereka membawa bumbu seperti lada dan jintan. Setelah diolah, semua orang makan dengan lahap sampai minyak membasahi mulut.
“Saudara Liu, keahlianmu memang luar biasa. Kalau nanti buka rumah makan di Xiangyin, aku, Lao Luo, jamin kamu bakal jadi kaya raya,” ujar Luo Shuai penuh pujian.
“Kau terlalu memuji, Luo Shuai. Tapi dibandingkan cari uang dari rumah makan, aku lebih suka hidup di ujung pedang,” balas Liu Changfan sambil tersenyum.
“Kau memang lelaki sejati. Tapi, Kepala Kecil, malam ini kita menginap di mana? Depan belakang tak tampak desa, jangan-jangan nanti kita dimakan harimau atau serigala,” keluh Luo Shuai.
“Tenang saja, Luo Shuai. Dengan kemampuan kita, harimau dan serigala pun hanya jadi lauk tambahan,” ujar Chen Yulou sambil berdiri. “Tapi memang, tempat setinggi dan serapat ini tak cocok untuk bermalam di luar.”
Tiba-tiba terdengar suara dingin, “Ketika aku berburu tadi, aku menemukan di lembah dekat sini ada sebuah rumah penampungan jenazah. Kita bisa beristirahat di sana sementara waktu.”
Semua orang menoleh, baru sadar yang bicara adalah Lin Feijian. Ia jarang bicara, sampai-sampai hampir terlupakan.
“Rumah penampungan? Rumah apa itu?” tanya Luo Lao Wai.
“Itu tempat menyimpan jenazah sebelum dimakamkan,” jelas Chen Yulou.
“Tidur bareng mayat? Tidak, tidak, aku benar-benar tidak mau!” seru Luo Lao Wai dengan wajah penuh rasa jijik dan penolakan.