Bab Empat: Kegilaan dan Kebangkitan
Sejak jiwa Pei Jiao memasuki alam kematian ini, waktu telah berlalu lebih dari empat bulan. Dalam neraka dunia arwah yang penuh teror dan kengerian ini, Pei Jiao tetap bertahan hidup dengan gigih... bahkan perlahan menjadi lebih kuat, menanti kesempatan untuk kembali ke dunia manusia!
Dalam empat bulan ini, pada bulan pertama, Pei Jiao memahami cara menggunakan butiran cahaya. Sebenarnya, satu-satunya cara yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memasukkan butiran cahaya ke dalam simbol petir, lalu memanfaatkan simbol itu untuk mengubahnya menjadi kekuatan petir. Selain itu, ia memang belum menemukan cara penggunaan lain.
Namun bagaimanapun, Pei Jiao adalah manusia yang memiliki kesadaran, tentu berbeda dengan monster-monster yang hanya bergerak berdasarkan naluri. Ia pun perlahan merangkum beberapa misteri yang ada dalam tubuh jiwanya.
Pertama, satu butiran cahaya sebesar bola pingpong adalah satu unit energi standar—standar ini dibuat oleh Pei Jiao sendiri. Satu unit energi standar bisa menghasilkan satu unit kekuatan petir melalui simbol petir. Kekuatan satu unit petir kira-kira setengah dari ledakan sebuah granat tangan; dua unit diperlukan agar setara dengan satu granat. Pei Jiao sendiri hanya mampu menyimpan sekitar empat unit kekuatan petir secara penuh. Artinya, begitu persediaan kekuatan petirnya penuh, tidak peduli seberapa keras ia memaksa simbol petir, simbol itu takkan lagi menyerap energi atau menghasilkan petir; tubuhnya sudah mencapai batas maksimum.
Batasan simpanan kekuatan petir bergantung pada seberapa banyak energi dalam tubuhnya, dan jumlah energi itu sendiri dipengaruhi oleh besarnya tekad yang ia miliki. Dengan perhitungan satu butiran cahaya sebesar bola pingpong sebagai satu unit energi, setiap pengendalian satu unit energi memerlukan satu unit tekad. Saat ini, Pei Jiao memiliki seratus dua puluh tujuh butiran cahaya di tubuhnya—artinya, ia punya seratus dua puluh tujuh unit tekad. Berdasarkan perhitungan bahwa semua butiran cahaya hanya bisa menyimpan empat unit kekuatan petir, berarti kira-kira setiap tiga puluh unit energi dapat menyimpan satu unit kekuatan petir.
Inilah hasil analisis dan perhitungannya untuk saat ini. Pei Jiao memiliki seratus dua puluh tujuh unit tekad, seratus enam unit energi (sebagian telah habis untuk eksperimen petir), dua set simbol petir, dan empat unit kekuatan petir. Itulah semua yang ia miliki sekarang. Dari semua data ini, tekad adalah fondasi utama: ia bisa menyerap butiran cahaya dan membentuk simbol petir—itulah dasar dari tubuh jiwa.
Faktanya, setelah sekian lama bereksperimen, Pei Jiao juga menyadari bahwa tekadnya tidaklah tetap, melainkan semakin kuat seiring waktu. Namun pertumbuhan itu sangat lambat, dan hanya terjadi saat ia masuk ke dalam keadaan meditasi mendalam—saat konsentrasi penuh dan hati benar-benar bersih dari gangguan. Mungkin hanya dalam kondisi seperti ini, tekad baru bisa bertumbuh.
Dari hitungan Pei Jiao, setiap kali ia akumulasi seratus jam meditasi, ia bisa mendapatkan satu unit tekad. Semakin banyak tekad yang ia miliki, efek meditasi juga semakin baik, dan pertumbuhan tekad semakin cepat. Mungkin beberapa waktu ke depan, saat tekadnya mencapai dua ratus atau lebih, ia hanya perlu puluhan jam meditasi untuk menambah satu unit tekad.
Itulah kesimpulan yang Pei Jiao dapatkan selama ini. Berkat ditemukannya kekuatan petir inilah, ia bisa bertahan selama empat bulan di alam kematian yang mengerikan ini.
Sebenarnya, Pei Jiao sudah berjalan ke tepi ruang yang membentang memanjang. Ia mengintip ke bawah dan melihat dunia yang jauh lebih besar dari bayangannya. Ruang melintang itu ternyata sebuah lubang raksasa, dan di beberapa ribu meter di bawahnya ada lapisan benua lain. Di bawahnya lagi ada benua berikutnya. Pei Jiao hanya samar-samar bisa melihat tiga lapisan benua saja, sementara lubang besar itu seolah tak berujung. Entah ada berapa banyak lapisan benua di bawah sana! Setidaknya untuk ruang di tempat Pei Jiao, ukurannya sudah luas tanpa batas.
Selama empat bulan ini, Pei Jiao pun beberapa kali menghadapi bahaya. Pernah suatu kali ia dikejar beberapa serigala raksasa bermuka manusia. Ia tak sempat bersembunyi ke celah batu besar, dan empat unit kekuatan petir miliknya jelas tak cukup untuk membasmi lima atau enam serigala sekaligus. Saat ia hampir putus asa, tiba-tiba dari bawah salah satu serigala muncul beberapa tentakel. Itu adalah monster raksasa sepanjang empat puluh hingga lima puluh meter—sebenarnya hanya wajah manusia gemuk raksasa, dengan banyak tentakel menjijikkan penuh gigi yang mencuat dari permukaannya. Serigala bermuka manusia itu pun langsung dililit dan dihancurkan menjadi energi standar, lalu wajah raksasa itu dengan kejam menyerap semua energi mereka—benar-benar iblis dari mimpi buruk.
Pei Jiao pun memanfaatkan kesempatan itu, menggunakan kekuatan petir untuk lari sekuat tenaga, sehingga berhasil lolos dari maut. Jika tidak, ia bahkan tak cukup besar untuk menjadi makanan monster itu.
Menyadari bahwa kekuatan petir adalah satu-satunya andalan, Pei Jiao benar-benar menekuni penggunaannya. Selain dapat menembakkan petir seperti sinar laser untuk membunuh musuh, kekuatan ini juga bisa menyelimuti tubuhnya seperti baju zirah tanpa melukainya. Ia bahkan bisa menyalurkan kekuatan petir ke kakinya untuk melipatgandakan kecepatannya seratus kali lipat. Meski empat unit kekuatan petir hanya tahan satu dua menit, selain monster-monster tercepat atau yang terbang, tidak ada yang mampu mengejarnya.
Dengan kehati-hatian dan simbol petir misterius ini, Pei Jiao akhirnya bisa bertahan empat bulan di alam kematian, dan ia juga mulai mengamati pola gerak para monster. Hampir semua jiwa manusia yang masuk ke alam ini akan mengalami mutasi dan perlahan kehilangan akal. Selama empat bulan, Pei Jiao dua-tiga kali bertemu jiwa manusia yang masih mirip manusia, walaupun penampilan mereka menyeramkan. Mereka seperti zombie—tak merespons sapaan Pei Jiao, langsung menyerang dan berusaha menggigitnya. Terpaksa, Pei Jiao harus membunuh mereka dengan petir. Kehadiran para monster humanoid ini pula yang mengisi ulang energi dalam tubuh Pei Jiao. Dari situ, ia sadar... mungkin di alam kematian ini, hanya ia satu-satunya manusia yang masih sadar.
Selain itu, Pei Jiao juga menemukan beberapa pola monster. Misalnya, serigala raksasa bermuka manusia, yang ia namai serigala pemakan jiwa. Dari pengamatannya, serigala-serigala ini bisa mendeteksi lokasi terbukanya gerbang antara dunia manusia dan arwah dari jarak sangat jauh, dan setiap kali gerbang terbuka, mereka akan berlari ke sana untuk memangsa jiwa-jiwa baru. Monster-monster lain pun saling memangsa; Pei Jiao pernah menguntit kawanan serigala ke sebuah gerbang, di mana ratusan jiwa manusia baru saja masuk ke alam kematian. Para serigala itu pun membantai para jiwa. Tiba-tiba, salah satu serigala mengeluarkan asap hitam pekat dari tubuhnya. Serigala lain berhenti makan dan tampak waspada, lalu dalam beberapa detik, asap hitam menghilang dan tubuh serigala itu berubah: dari satu kepala menjadi dua, satunya berupa tengkorak menakutkan. Tubuhnya pun membesar dan ia berbalik menyerang kawanan lainnya. Dalam sepuluh menit, semua serigala dan jiwa manusia habis dimangsa oleh serigala berkepala dua itu, yang kemudian berlari ke arah ruang melintang. Pei Jiao sendiri sampai tak berani bergerak di puncak batu, hanya menunggu monster itu pergi.
Satu-satunya hukum di alam kematian ini adalah bertahan hidup dan menjadi kuat... beginilah dunia setelah kematian! Inilah pemahaman terbesar Pei Jiao selama empat bulan di sini.
Dengan hati-hati, Pei Jiao menyingkirkan timbunan tanah dan batu di atas kepalanya, keluar dari celah di bawah batu besar, lalu mengawasi sekeliling dengan waspada. Setelah yakin semuanya aman, ia berdiri tegak di bawah batu besar. Tiba-tiba, tubuhnya membesar lima enam kali lipat, tinggi sekitar dua belas meter, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya petir seperti dewa petir raksasa zaman purba. Namun, kehebatan ini hanya berlangsung sesaat—bahkan belum satu detik, tubuh raksasa itu melemah dan kembali ke wujud Pei Jiao.
"Aduh, langsung habis tujuh delapan unit energi standar dan dua unit tekad. Sepertinya aku hanya bisa bertahan sepuluh detik; lewat dari itu, aku akan lenyap total." Begitu kembali ke wujud semula, Pei Jiao duduk bersila dan masuk ke keadaan meditasi, baru beberapa saat kemudian ia membuka mata dan bergumam.
Karena bahaya mengintai di mana-mana, sedikit saja lengah akan menjadi mangsa monster. Empat unit kekuatan petir saja tidak banyak berarti. Pei Jiao cukup sabar—ia tahu dirinya saat ini tak berbeda dari manusia biasa, sama sekali tak sanggup melawan monster-monster itu. Tujuannya adalah kembali ke dunia manusia, jadi ia sangat butuh kekuatan untuk melindungi diri. Selama empat bulan ini, selain mencari jalan pulang dan mengamati pola monster, ia paling sering bersembunyi di celah batu besar, menutup pintu masuk lalu bermeditasi. Kini, setelah empat bulan, ia telah memiliki seratus empat puluh satu unit tekad; setiap sembilan puluh lima jam meditasi ia bisa mendapat satu unit tekad, lima persen lebih cepat dari empat bulan lalu.
Tapi ia tetap merasa terlalu lemah. Bahkan hampir lima unit kekuatan petir jika ditembakkan sekaligus, kekuatannya hanya setara dua granat—belum cukup untuk membunuh monster. Karena itu, ia sangat butuh jurus pamungkas. Ia teringat saat membunuh burung berkepala manusia dan bercakar sembilan, ia dalam keadaan sangat bersemangat dan tak hanya mengeluarkan empat unit petir.
Maka Pei Jiao kembali berdiam diri, merenung dan mengeksplorasi rahasia tubuh jiwanya. Akhirnya ia menemukan bahwa dua set simbol petir itu, dalam keadaan darurat, bisa beroperasi secara berlebihan: mengonsumsi lima kali energi standar untuk menghasilkan satu unit kekuatan petir. Namun, kekuatan petir ini tidak bisa disimpan dalam tubuh, dan penggunaannya membuat energi dalam tubuh membengkak dan cepat habis, seperti yang pernah ia alami: tubuhnya membesar, penuh petir, seperti dewa raksasa.
Namun, efek terburuk dari operasi berlebihan ini adalah setiap detik penggunaannya menghabiskan satu unit tekad untuk menjaga stabilitas simbol petir... Beda dengan energi yang bisa diserap dari monster, tekad adalah fondasi tubuh jiwa; jika habis harus diisi ulang lewat meditasi, yang memerlukan waktu lama. Bahkan, Pei Jiao mendapati bahwa semakin sedikit tekadnya, semakin sulit ia masuk ke dalam keadaan meditasi. Jika jumlah tekad turun di bawah seratus, ia takkan pernah bisa menambahnya lagi!
"Jurus ini akan dinamai Pembakaran Petir—jurus pamungkas yang membakar nyawa," gumam Pei Jiao di bawah batu besar sambil tersenyum pahit.
Bagaimanapun juga, Pei Jiao akhirnya menemukan jurus andalan. Selanjutnya ia berencana bermeditasi selama satu dua tahun, sesekali keluar memburu zombie untuk mengisi energi, lalu setelah tekadnya mencapai dua ratus, ia akan membuntuti serigala bermuka manusia mencari gerbang hitam, berharap bisa kembali ke dunia manusia...
Tepat ketika Pei Jiao hendak kembali ke celah batu untuk bermeditasi, ia melihat beberapa titik hitam di kejauhan di dataran luas. Ia pun segera menempel ke tanah, tak berani bergerak. Benar saja, beberapa serigala bermuka manusia berlari menuju suatu arah, mengangkat debu tinggi, sama sekali tak menyadari keberadaan Pei Jiao di balik bayangan batu besar, dan terus berlari menjauh.
Setelah kawanan serigala itu pergi, Pei Jiao berdiri dan menghela nafas. Ia tahu pasti ada gerbang ruang baru terbuka di kejauhan, dan para serigala itu akan memangsa banyak jiwa manusia... Sayang ia tak berdaya—melindungi diri saja sulit, apalagi menolong orang lain? Lebih baik ia bermeditasi lagi, memperkuat diri, dan segera kembali ke dunia manusia.
Baru saja ia hendak turun ke celah batu, tiba-tiba beberapa titik hitam lagi muncul di kejauhan. Ia kembali tiarap di tanah. Benar saja, kawanan serigala lain berlari ke arah yang sama. Bahkan, kali ini beberapa kelompok serigala beriringan terus-menerus menuju satu tempat.
"Jangan-jangan... ada banyak jiwa manusia yang muncul bersamaan?" Pei Jiao menatap ke arah itu dengan mata terbelalak, ragu apakah harus membuntuti kawanan serigala itu. Ini bertentangan dengan rencananya mengumpulkan kekuatan.
Dalam empat bulan ini, Pei Jiao pernah melihat kejadian serupa: beberapa kawanan serigala menuju satu arah—sesuatu yang belum pernah ia lihat. Biasanya satu gerbang hanya dihadiri satu kawanan serigala, agar cukup untuk dimangsa bersama; tapi saat itu, beberapa kawanan berkumpul di satu tempat. Karena penasaran, Pei Jiao membuntuti dari kejauhan dan melihat puluhan serigala berkumpul di tanah kosong, tanpa ada jiwa manusia atau gerbang. Ia sempat mengira mereka tengah melakukan semacam ritual atau bahkan memiliki struktur sosial. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba muncul gerbang ruang raksasa, bahkan dari sisi lain tampak samar-samar kota manusia yang terang benderang.
Kemudian, dari gerbang itu bermunculan ribuan jiwa manusia. Pasti telah terjadi bencana atau kecelakaan besar di kota itu, sebab tak mungkin ribuan orang mati dalam satu hari tanpa sebab. Para serigala itu pun memangsa seluruh jiwa sampai habis. Saat itu, Pei Jiao sadar: kawanan serigala memang mampu mendeteksi pembukaan gerbang, dan kejadian berkumpulnya banyak kawanan pasti menandakan masuknya ribuan jiwa sekaligus—dan gerbang raksasa itu akan terbuka jauh lebih lama.
Sebenarnya, Pei Jiao sudah lama ingin membuntuti serigala demi menemukan gerbang, sebab gerbang muncul dan hilang secara acak. Jika hanya mengandalkan keberuntungan, mungkin ratusan tahun pun belum tentu ia temukan. Tapi jika terlalu dekat, ia akan dilahap kawanan serigala; jika terlalu jauh, saat ia tiba gerbang sudah tertutup dan ia pun hanya akan jadi mangsa. Satu-satunya kesempatan adalah saat gerbang raksasa itu terbuka dan ribuan jiwa masuk bersamaan—waktu terbuka sepuluh kali lebih lama dari gerbang biasa. Jika Pei Jiao berlari secepatnya, apalagi dengan kekuatan petir, dalam waktu itu ia bisa menempuh jarak sepuluh kilometer. Untuk gerbang biasa yang hanya terbuka dua puluh detik, jelas tak mungkin.
Setelah ragu beberapa detik, akhirnya Pei Jiao memutuskan mengejar ke arah kawanan serigala. Toh di alam kematian ini hidupnya sudah lebih buruk dari mati, setiap hari hanya bersembunyi di celah tanah gelap demi bertahan. Daripada hidup seperti itu, lebih baik sekalian bertaruh nyawa—kalau beruntung, bisa pulang dan bertemu orang tua serta adik; kalau tidak, setidaknya ia tak perlu terus bersembunyi seperti tikus!
Begitulah, Pei Jiao membuntuti kawanan serigala. Berkat latihan selama empat bulan, ia sudah jauh berbeda dari manusia biasa yang baru datang. Ia tahu bagaimana bersembunyi, membuntuti, dan mencari jejak monster. Keahliannya di antara hidup dan mati menyaingi pemburu terbaik di dunia nyata. Dengan hati-hati, ia tidak sampai ketahuan kawanan serigala. Tak tahu berapa lama, akhirnya ia sampai di tujuan mereka: sebidang dataran luas tanpa batu besar di sekitarnya, puluhan serigala duduk setengah jongkok menanti terbukanya gerbang.
Pei Jiao mengamati sekeliling, hatinya pahit. Lingkungan itu benar-benar tak menguntungkan: sepuluh kilometer di sekitar pusat berkumpulnya serigala tak ada satu pun batu besar—artinya, ia sangat sulit mendekat. Sepuluh kilometer adalah batas larinya; lebih dari itu, kekuatan petirnya tak cukup, dan gerbang mungkin sudah tertutup—dua hal yang sangat berbahaya.
"Terserah, kalau terpaksa, aku akan gunakan Pembakaran Petir, meski harus lenyap sekalipun! Aku sudah cukup lama di neraka ini, tak mau bertahan sedetik pun lagi!"
Alasan Pei Jiao nekat mencoba pulang sekarang, selain karena kesempatan langka gerbang raksasa, juga karena kondisi mentalnya sudah di ambang batas.
Kesadaran manusia sangat rapuh. Jika seseorang ditempatkan di lingkungan gelap, tanpa gravitasi dan suara, ia akan mengalami gangguan jiwa dalam dua puluh empat jam. Jika seseorang sendirian di lingkungan asing tanpa teman bicara, maksimal sebulan ia akan mengalami gangguan mental seperti halusinasi. Jika di medan perang yang penuh ancaman, dalam tiga bulan seseorang bisa terkena sindrom traumatis akibat ketegangan tiada henti.
Alam kematian ini bahkan lebih kejam dari medan perang mana pun! Sekuat apa pun mental dan tekad Pei Jiao, dalam lingkungan seperti ini syarafnya selalu tegang. Lama-lama ia tak sanggup lagi menahan tekanan mental. Sekarang satu-satunya harapannya adalah kembali ke dunia manusia, jika tidak, ia bisa saja menjadi gila... Meski tahu cara paling aman adalah bersembunyi dan menambah tekad perlahan, lalu mencari peluang pulang setelah kuat, namun tahu dan bisa melakukan adalah dua hal berbeda... Pei Jiao tak mau menunggu lagi—pulang atau mati! Sesederhana itu.
Pei Jiao menekan rasa takut dan tegang, terus-menerus mengulang-ulang puisi di benaknya untuk memaksa diri tenang, sementara matanya terpaku ke dataran jauh di sana. Ia bersembunyi di balik batu besar terdekat, jaraknya sekitar dua belas kilometer dari pusat kawanan serigala—hampir batas maksimum kekuatan petirnya. Ia tak yakin bisa sampai ke sana, tapi ia sudah siap: begitu gerbang muncul, ia akan langsung berlari sekuat tenaga!
(Monster serigala ini sebenarnya tidak punya struktur komando. Yang terkuat sudah berevolusi, sehingga mereka bertindak sendiri-sendiri dan tujuannya hanya memangsa jiwa manusia. Jika aku muncul dan mereka menyerangku, mereka akan kehilangan kesempatan memangsa lebih banyak jiwa. Karena mereka dulunya manusia, mustahil mereka mau rugi demi orang lain; aku tak percaya ada serigala baik hati di antara mereka, kecuali aku sendiri bodoh mendekat atau semua jiwa manusia sudah habis. Selama itu belum terjadi, aku masih aman...)
Pei Jiao sangat jelas akan hal ini. Selama jiwa manusia di sana belum habis, ia masih aman. Ia hanya perlu memanfaatkan waktu itu untuk menerobos ke gerbang, inilah satu-satunya kesempatan!
Pei Jiao menunggu dengan sabar, nyaris tak bergerak, mata awas mengamati dataran jauh itu. Entah berapa lama berlalu, kesadarannya hampir tumpul, tiba-tiba di udara sekitar tujuh belas delapan belas meter di atas tanah, ruang itu bergetar dan berputar, lalu terobek seperti kain—gerbang ruang hitam terbuka, dan jiwa-jiwa manusia mengalir keluar, satu per satu jatuh ke tanah.
"Sekarang!"
Pei Jiao melompat dari tanah, lalu melesat menuju dataran itu. Dalam beberapa meter, petir menyelimuti tubuhnya, lalu berkumpul di bawah kakinya seperti bantalan udara, kecepatannya melonjak sepuluh kali lipat—seratus meter ditempuh dalam sekejap, bayangannya tertinggal memanjang di belakang, membentuk ekor cahaya petir.
Dengan kecepatan sekarang, menempuh dua belas kilometer butuh hampir dua menit—waktu yang penuh kemungkinan buruk: pertama, jika serigala menyerang, ia pasti mati, tak ada harapan. Kedua, gerbang harus tetap terbuka selama dua menit itu. Ketiga, kekuatan petirnya harus cukup, sebab jika harus menggunakan Pembakaran Petir, ia hanya sanggup bertahan sepuluh detik—setelah itu pasti mati!
Kesempatan hanya sekali! Gagal, tamat!
Pei Jiao menggertakkan gigi, berlari seperti kesetanan, tatapannya liar. Dari kejauhan, kawanan serigala itu memang menyadari kehadirannya, tapi seperti dugaannya, mereka tetap sibuk memangsa jiwa manusia dan tak peduli pada manusia kecil yang muncul tiba-tiba. Itu sedikit melegakan, tapi ia tak berani lengah—dari tiga syarat, baru satu terpenuhi; jika salah satu gagal, ia pasti binasa. Pei Jiao pun mengerahkan seluruh keberaniannya di perjalanan maut ini.
Waktu berlalu perlahan, setiap detik terasa seperti setahun bagi Pei Jiao. Ia hanya terpaku pada gerbang yang perlahan mengecil dan kawanan serigala yang terus memangsa. Konsentrasinya mencapai puncak, seperti saat meditasi; bahkan ia berhasil menembus batas, mampu memasuki keadaan meditasi saat bergerak—walaupun ia sendiri tak menyadarinya, pikirannya hanya dipenuhi bayangan gerbang dan monster.
Setiap langkah terasa penuh pikiran, namun saat mencoba mengingat, semua hilang—hanya gerbang dan serigala di benak. Detik demi detik, langkah demi langkah, kilometer demi kilometer, ia semakin dekat; bahkan wajah-wajah jiwa manusia mulai tampak di matanya. Mayoritas adalah ras kulit putih, sebagian kecil kulit hitam dan kuning—tampaknya gerbang itu terbuka di negara-negara barat. Tapi Pei Jiao sudah tak peduli di mana pun, asal bisa kembali ke dunia manusia, biarpun di kutub utara atau selatan!
Semakin dekat, serigala-serigala itu kadang menoleh ke arahnya. Begitu ia masuk jarak serang, mereka pasti akan menerkam. Pei Jiao sudah tak bisa mundur, hanya bisa terus maju. Setelah lebih dari satu menit berlari, jarak ke serigala terdekat tinggal seribu meter, sekitar dua belas detik lagi. Serigala terdekat itu berhenti makan, berbalik dan menatapnya penuh kebencian—begitu ia mendekat, pasti akan diterkam tanpa ampun.
Kebencian dan ancaman itu begitu nyata, bahkan dalam keadaan meditasi Pei Jiao merasa dingin setengah mati. Bayangkan saja, seekor monster sebesar gajah dengan kepala manusia bermulut besar menatapmu tajam—siapa pun pasti takut. Pei Jiao pun ketakutan, tapi tubuhnya terus berlari dengan naluri. Saat jarak tinggal tiga-empat ratus meter, petir di bawah kakinya mulai redup, empat unit kekuatan petirnya habis total. Tanpa daya dorong, ia terjungkal ke depan sejauh dua puluh meter, lalu terguling di tanah.
Serigala raksasa terdekat meraung, tubuhnya melompat tinggi, lalu menerkam ke arah Pei Jiao. Jika benar-benar tertimpa, tubuh Pei Jiao akan hancur berkeping-keping—bahkan jiwa pun akan binasa. Pei Jiao tak tinggal diam, menahan sakit luar biasa di tubuh jiwanya, ia berguling ke samping. Tapi entah mengapa, monster sebesar itu bisa begitu lincah—baru dua tiga meter menghindar, si serigala sudah menghantam tanah dengan keras tepat di tempat ia tadi jatuh. Getaran hebat membuat Pei Jiao terguncang, belum sempat sadar, cakar depan serigala sudah menekannya kuat-kuat ke tanah, lalu mulut mengerikan itu mengincar untuk menggigitnya.
"Pergi... pergi dari sini!"
Saat membuka mata, perhatian Pei Jiao bukan pada serigala di depannya, melainkan pada gerbang hitam di langit yang semakin menyusut—dari lebar puluhan meter kini tinggal dua puluh meter, tak lama lagi pasti lenyap. Pei Jiao panik, tak peduli soal hidup-mati, kesadarannya langsung menyalurkan seluruh tekad dan energi ke simbol petir. Terdengar suara letupan, tubuh Pei Jiao mulai membesar dengan cepat.
Serigala yang menindihnya awalnya hendak menggigit kepala, tapi karena tubuh Pei Jiao membesar, gigitan itu hanya melukai dadanya. Begitu tubuhnya membesar hingga dua belas-tiga belas meter, ukuran keduanya hampir seimbang. Namun, kini tubuh Pei Jiao dipenuhi kilatan petir, dan cakar serigala yang menindihnya hangus terbakar, lalu berubah menjadi butiran cahaya yang bergerak menutup luka di dadanya. Serigala itu pun mundur ketakutan, tak berani mendekat. Pei Jiao juga tak mau berlama-lama; begitu bebas, ia melompat sekuat tenaga ke arah gerbang hitam di udara.
Tinggi tubuhnya kini sekitar dua belas-tiga belas meter, dan dengan sekali lompatan ia melesat hingga tiga puluh meter. Ketika kawanan serigala berlari mengejarnya, tubuh raksasa Pei Jiao sudah menembus gerbang hitam itu. Seketika pandangannya gelap, sensasi terkoyak hebat menjalar dari segala arah—tangan dan kakinya serasa tercabik-cabik, tubuhnya penuh retakan, hampir saja hancur lebur. Entah karena beruntung atau kebetulan, ketika listrik menyambar cakar serigala hingga hangus, cakar itu berubah jadi butiran cahaya yang menambal luka-lukanya. Dalam keadaan darurat, sebagian besar butiran cahaya itu terbawa ke gerbang hitam, dan ketika tubuhnya tercabik, butiran-butiran itu otomatis menambal dan memulihkan kerusakan. Rupanya, semua ada jatahnya; butiran kecil itulah yang menyelamatkan nyawanya.
Ketika butiran cahaya itu hampir habis, di ujung gerbang hitam muncul cahaya terang. Dalam sekejap, Pei Jiao menerobos keluar—gerbang di belakangnya langsung tertutup. Barulah saat itu, jiwa dan pikirannya yang telah terkuras habis tak mampu menahan sakitnya, ia pun pingsan. Namun, sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, ia sempat melihat dunia di depannya: cahaya neon yang gemerlap—dunia manusia...