Bab Empat Puluh Tiga: Menemani Tidur Sang Raja
Keesokan paginya, Olayah datang menemuiku dan mengajakku keluar istana untuk berjalan-jalan di Kota Bagdad. Tentu saja aku sangat tertarik dan langsung ikut dengannya.
Terakhir kali aku masuk kota ini dengan tergesa-gesa, jadi belum sempat menikmati keindahan kota kuno ini. Kota Bagdad terdiri dari dua bagian, timur dan barat, yang dihubungkan oleh tiga buah jembatan ponton, sama seperti Bagdad masa kini. Pelabuhan di dalam kota membentang sepanjang beberapa mil, di sana berlabuh ratusan kapal dari berbagai jenis, mulai dari kapal perang, kapal pesiar, kapal besar dari Tiongkok, hingga rakit kulit domba milik penduduk setempat. Di mana-mana tampak para pedagang dari berbagai bangsa sibuk menjalankan urusan mereka.
Barang-barang di pasar membuatku benar-benar terkagum-kagum. Ada porselen, sutra, dan kesturi dari Tiongkok; rempah-rempah, mineral, dan zat pewarna dari India serta Kepulauan Melayu; permata rubi, lapis lazuli, kain tenun, dan budak dari wilayah Turkistan Asia Tengah; madu, lilin kuning, bulu binatang, dan budak kulit putih dari Skandinavia dan Rusia; gading, serbuk emas, dan budak kulit hitam dari Afrika Timur; kain brokat dan senjata dari Arabia; serta sutra, parfum, dan sayuran dari Persia. Bahkan ada pasar khusus yang menjual barang-barang dari Tiongkok. Kata Olayah, di Kota Chang’an pun ada pasar khusus yang menjual barang-barang Arab.
Tak kusangka, perdagangan sudah begitu makmur lebih dari seribu tahun yang lalu...
Tiba-tiba Olayah menatapku sambil tersenyum penuh rahasia dan berkata, “Tapi ada satu pasar yang pasti tidak ada di Chang’an kalian.”
Ia menarik tanganku menuju sebuah gang sempit, lalu kami keluar ke sebuah lapangan luas yang penuh sesak dengan orang. Suasana hiruk-pikuk, di tengah lapangan berdiri sebuah panggung besar, dikelilingi banyak orang. Suara tawar-menawar yang nyaring terdengar bersahut-sahutan.
Di atas panggung berdiri banyak budak dari berbagai ras, laki-laki dan perempuan, semuanya tampak masih muda. Mereka menunggu dengan wajah kosong harga yang akan ditentukan para pembeli. Rupanya ini adalah... pasar budak.
Sejujurnya, aku sangat tidak suka tempat seperti ini. Jual-beli manusia secara terang-terangan benar-benar bertentangan dengan pikiranku sebagai orang modern. Namun, aku tidak bisa menyalahkan Olayah. Baginya, perdagangan budak adalah hal yang biasa.
“Lihat, inilah wanita Yunani yang baru datang, masih perawan. Barang seperti ini jarang ada. Lihat betapa cantiknya wajah dan tubuhnya, pasti bisa membuatmu terlena setiap malam! Harga mulai—sepuluh dinar!”
Seorang pria pendek gemuk mendorong seorang gadis Yunani muda yang cantik ke depan, lalu dengan kasar merobek pakaiannya. Tubuh si gadis langsung telanjang di hadapan semua orang. Para lelaki menatap penuh nafsu, memandangi tubuh polosnya. Gadis itu menutupi bagian pentingnya dengan ketakutan dan menangis, usianya tampaknya baru sekitar tiga belas atau empat belas tahun. Entah apa nasibnya nanti—mungkin jadi pelayan, mungkin jadi budak seks. Di usia semuda itu, ia harus menjadi mainan para lelaki ini. Melihat air matanya, hatiku terasa sangat tidak nyaman...
“Lima belas dinar!”
“Dua puluh dinar!”
“Tiga puluh dinar!”
Suara tawar-menawar makin ramai, sekelompok pria yang dikendalikan nafsu belaka! Aku menatap mereka dengan jijik.
“Ada yang mau menawar lebih tinggi? Lihatlah dada indah ini!” Si pria gemuk mencubit keras dada gadis itu hingga ia menjerit pelan karena kesakitan.
Aku sudah hampir tidak tahan lagi... Tapi meski aku menolongnya, apa gunanya? Aku tak mungkin menyelamatkan semuanya, dan ini pun dunia Arab seribu tahun yang lalu, bukan zaman sekarang. Si Yin benar, tugasku hanya menyelesaikan misi, jangan mencampuri urusan lain.
“Sebaiknya kita pergi saja,” bisikku pada Olayah.
“Tapi seratus dinar!” Tiba-tiba seseorang menawar harga tinggi. Aku menoleh, ternyata seorang pria muda berusia dua puluhan yang berpakaian mewah, di sampingnya berdiri sosok yang kukenal—bukankah itu Harun? Mengapa dia juga berada di sini? Rupanya, atasan rusak, bawahan pun ikut rusak, dasar buaya darat.
Wajah pria gemuk itu berseri-seri, “Seratus dinar! Ada yang menawar lebih tinggi? Seratus dinar, sekali! Seratus dinar, dua kali! Seratus dinar, tiga kali! Bagus! Gadis Yunani cantik ini jadi milik tuan yang terhormat!”
“Ya Tuhan, itu kakanda Hadi,” bisik Olayah, wajahnya berubah, “Syukurlah kita memakai kerudung, kalau kakanda tahu aku ada di sini, pasti marah sekali.”
Hadi, putra mahkota pertama? Dalam catatan sejarah, ia memang berumur pendek, naik takhta sebentar lalu meninggal, sehingga putra mahkota kedua, Harun, bisa menjadi khalifah. Aku memperhatikannya sekali lagi, meski wajahnya tampan, di sorot matanya tersirat kekejaman.
“Marah? Bukankah dia sendiri juga datang ke tempat begini?” aku berkata acuh.
“Itu lain, kakanda laki-laki. Lagi pula, kabarnya memang sering ke sini membeli budak. Tapi kenapa Harun juga ikut?” Ia tampak heran.
Si pria gemuk melepaskan tali di pergelangan tangan dan kaki si gadis, lalu menyerahkannya pada Hadi. Gadis itu menggerakkan tangan dan kakinya, tiba-tiba mendorong Hadi dan berusaha lari, tapi Hadi cepat-cepat menarik rambutnya dan menyeretnya kembali. Gadis itu, entah dari mana kekuatannya, langsung menggigit tangan Hadi.
Wajah Hadi menggelap, ia mencabut pedang melengkung di pinggang, “Plak!” Tapi Harun cepat-cepat menahan tangannya dan membisikkan sesuatu. Wajah Hadi sedikit melunak, lalu mengambil cambuk dari pengawal dan mencambuk keras punggung gadis itu.
Bekas cambuk merah menyala di punggung putih gadis itu, diiringi jeritannya yang memilukan. Sungguh pemandangan yang mengiris hati. Ah, Ye Yin, kalau kau tak turun tangan sekarang, bukan wanita namanya...
“Kakak... dia...” Olayah juga tampak tak tega.
“Berhenti!” Teriakku sambil berlari ke arah gadis itu dan meraih cambuknya dengan erat.
Hadi jelas terkejut, sementara Harun di sampingnya belum mengenaliku.
“Perempuan dari mana, cepat minggir!” Ia menggertakkan cambuk.
“Tuan, tolong tenang,” aku berusaha bicara selembut mungkin, “Dia hanya seorang perempuan, kalau kau terus memukulnya, bisa-bisa ia mati. Bukankah sayang kehilangan kecantikannya? Kalau kulitnya terluka, takkah berkurang kenikmatanmu?”
Hadi menatapku dengan heran, begitu pula Harun di sampingnya, lalu tersenyum sinis yang kukenal. Sepertinya... dia mengenaliku...
“Melihat tuan yang tampan, gagah, dan bijaksana, pasti seorang yang penyayang. Menghadapi gadis seperti ini, perlu apa memakai kekerasan? Aku yakin sebentar lagi dia akan takluk pada pesonamu.” Aku tahu bicara soal keadilan takkan berguna di masa ini, lebih baik memujinya saja.
Semua orang suka dipuji. Tampaknya caraku manjur, Hadi ragu-ragu sejenak, hendak menurunkan cambuknya.
Aku agak lega, tapi tiba-tiba cambuk itu melilit pergelangan tanganku.
“Perempuan, lebih baik kau ikut aku juga,” katanya dengan senyum mengejek. Gawat, sepertinya ia tak pernah dipuji wanita, jadi jadi keblinger.
Aku tertawa hambar, “Aku ini jelek sekali...”
“Benarkah?” Ia langsung mencoba menarik kerudungku, namun aku reflek menepis tangannya.
“Kak, lihat tubuh perempuan ini, pasti buruk rupa, tak usah buang waktu untuk barang seperti ini, lebih baik kita segera pulang ke istana.” Harun mendadak bicara, sekilas melirik padaku.
“Buruk rupa?” Hadi malah makin tertarik, “Hari ini aku harus lihat seperti apa sih wajah buruk rupa itu!”
“Tunggu, kakak, dia tamuku.” Olayah akhirnya maju, mengungkapkan jati dirinya.
“Olayah, kenapa kau di sini!” Hadi kaget, lalu menatapku, “Jadi ini perempuan Tang yang katanya menyelamatkan nyawamu di istana?”
Olayah mengangguk, “Kakak, jangan sakiti dia. Dia tamu pentingku.”
“Kak, hari sudah sore, mari kita pulang. Kalau ayahanda tahu...” Harun juga menambahkan.
“Dan kakak, kalau berkenan, serahkan dulu gadis itu padaku. Haymani akan mengurusnya dengan baik.” Usul Olayah membuatku lega. Setidaknya gadis itu tak perlu menderita lagi.
Hadi mengangguk, memandangku dengan tatapan rumit, lalu pergi bersama Harun.
============================
Setelah kembali ke istana, dua hari kemudian tiba-tiba terdengar kabar bahwa Khalifah turun takhta. Dinasti Abbasiyah berganti penguasa dalam sekejap, persis seperti dalam sejarah: Putra Mahkota Hadi naik takhta menjadi Khalifah keempat. Meski banyak yang meragukan pengunduran mendadak itu, semua terpaksa menerimanya.
Begitu naik takhta, ia langsung membubarkan seluruh harem ayahandanya. Semua selir yang tidak melahirkan keturunan dikirim ke pasar budak, lalu ia memerintahkan orang mencari banyak wanita cantik untuk mengisi haremnya, bahkan lebih gila dari ayahnya. Karena jumlahnya terlalu banyak, ia sampai membuat berbagai cara aneh untuk memilih siapa yang menemaninya malam itu.
Nasib para selir yang sudah tak dipilih pun sangat menyedihkan. Sekejap saja dari hidup mewah sebagai permaisuri, mereka menjadi budak. Hadi benar-benar kejam.
Mungkin karena wanita cantik tak terhitung jumlahnya, ia pun langsung melupakan gadis Yunani cilik yang dibelinya kemarin. Gadis itu pun akhirnya menjadi pelayan pribadi Olayah.
Di istana, aku juga rajin memakai kerudung, jadi tak terlalu mencolok dan dapat melindungi diri dari angin dan debu. Setiap malam sebelum tidur, aku biasa mengobrol dengan Xiaodeng—sudah jadi kebiasaan. Tapi anak ini seperti menyimpan rahasia.
Sejak Hadi naik takhta, hampir setiap malam istana penuh pesta. Para bangsawan, kerabat kerajaan, berkumpul, musik dan tari-tarian berlangsung hingga pagi.
Olayah dan Harun, meski tak suka, tak bisa menolak undangan Khalifah. Malam ini pun sama, mereka sudah dijemput untuk menghadiri jamuan makan malam.
Aku yang bosan, berjalan-jalan di halaman sambil memikirkan tugas ini. Sungguh rumit, sampai sekarang belum ada petunjuk, dan aku tak tahu kapan peristiwa itu akan terjadi, atau bagaimana cara mencegahnya. Melihat keseharian Olayah pun tak ada yang aneh, benarkah ada perjanjian setan itu? Tiba-tiba aku berpikir, lebih baik malam ini aku menyelidiki. Asal cukup hati-hati, seharusnya takkan ketahuan.
“Olayah, kau benar-benar tak mau ikut aku pulang ke Tang?” Terdengar suara yang sangat kukenal dari balik lebatnya pohon murad. Jika aku tak salah dengar, itu suara Yang Li.
Aku segera berhenti dan memasang telinga.
“Aku... aku tak ingin meninggalkan Bagdad...”
“Mengapa? Tidakkah kau ingin melihat negeriku?”
“Aku ingin, tapi aku tak sanggup meninggalkan tempat ini.”
“Nanti kita kembali, hanya pergi sebentar saja.”
“Maaf, Li, aku sungguh berat meninggalkan sini, tidak bisa.”
“Olayah... apakah hatimu masih untukku?”
“Li, demi Allah, hatiku selamanya hanya untukmu.”
“Baiklah, kita ke ruang jamuan, jangan sampai terlambat.” Nada Yang Li terdengar pasrah.
Mendengar langkah mereka menjauh, aku makin bingung. Jadi Olayah tak mau ke Tiongkok, apakah karena takut rahasianya terbongkar?
Aku melamun sambil berjalan, tiba-tiba sadar sudah sampai di depan ruang pesta. Saat hendak pergi, seorang budak hitam besar menarikku, “Kenapa kau masih di sini? Pesta sudah mulai.”
Otakku kosong, belum sempat berpikir sudah didorongnya masuk ke dalam aula. Aku hampir tersandung, berpegangan pada orang di sampingku, baru sadar seluruh ruangan penuh perempuan berdandan genit dan menari. Apa-apaan ini? Jangan-jangan aku dikira penari?
Kulihat gaun yang kupakai sangat mewah, langsung menyesal kenapa tadi memilih baju ini...
Mundur pun sudah tak mungkin. Untung wajahku tertutup kerudung, tak akan ada yang mengenaliku. Aku pun ikut menari seadanya, sambil mengamati isi aula.
Balairung megah itu berkilauan oleh kemewahan, lilin amber besar menyulap malam jadi siang. Di aula, pohon-pohon emas dan perak dihiasi burung-burung kecil dari logam mulia, para pemusik memainkan musik Arab yang memabukkan. Di atas meja terhampar apel Damaskus, buah persik Oman, ketimun lembah Nil, lemon Mesir, dan mangga Rahal, juga berbagai kue harum dan minuman mewah.
Khalifah baru, Hadi, duduk di singgasananya, dikelilingi para budak perempuan berbadan montok dan berpakaian minim. Wajahnya yang tampan tampak lesu karena terlalu banyak berpesta. Di sampingnya duduk para bangsawan Bagdad, kulihat Olayah beserta suaminya, juga si pangeran sombong Harun.
Sedang aku memperhatikan, tiba-tiba Harun menoleh ke arahku. Aku cepat-cepat menunduk, berharap pesta cepat selesai agar bisa segera kabur.
Musik akhirnya usai, aku menarik napas lega, tapi belum sempat lega, para wanita di sekelilingku serempak melepas kerudung dan melemparkannya ke udara. Kerudung-kerudung tipis itu beterbangan dan jatuh tepat di hadapan Hadi.
“Kenapa kau tidak lempar?” Seorang pelayan istana menegurku, lalu langsung merenggut kerudungku dan melemparnya. Ajaibnya, tepat jatuh di pangkuan Hadi.
Hadi tersenyum, mengambil kerudungku, lalu berkata, “Tampaknya malam ini Allah sudah memilihkan untukku. Kerudung ini milik siapa?”
“Baginda, miliknya,” kata pelayan di sampingku, perhatian langsung tertuju padaku.
“Bersyukurlah kepada Allah, betapa beruntungnya kau malam ini terpilih menemani Baginda,” ujar pelayan istana itu sambil tersenyum.
Aku merasa jantungku membeku dan hancur berkeping-keping.
Menemani tidur? Ini bukan main-main...
Ya Tuhan, ternyata ini pemilihan pelayan tidur...
=============================
“Baginda, Xiaoyin bukan perempuan harem, dia tamuku,” Olayah segera berdiri.
Begitu mendengar itu, sorot mata Hadi langsung tajam, berkata pelan, “Jadi kau perempuan di pasar budak waktu itu?” Ia bangkit dan berjalan pelan ke arahku. Sial, kini Olayah justru membangkitkan ingatannya.
Ia berdiri di depanku, mengangkat daguku dan memerhatikan wajahku, “Benar, aku ingat mata ini.”
Aku memalingkan kepala, tersenyum, “Maaf, Baginda, sepertinya ada salah paham, bolehkah aku permisi?”
“Permisi?” Ia cepat-cepat memegang daguku lagi, “Tapi malam ini kau harus menemaniku, bukan?”
Brengsek, jangan macam-macam. Kesabaranku ada batasnya. Dalam hati aku memaki, tapi di wajah tetap tersenyum. Bagaimanapun dia raja, buat masalah tak ada untungnya.
“Baginda, Xiaoyin...” Olayah mulai panik, begitu juga Yang Li.
“Olayah, ini bukan pilihanku, ini pilihan Allah. Mulai malam ini, dia masuk ke haremku,” ucap Hadi santai.
Olayah cemas melirik Harun, yang tetap tenang.
Sial, pilihan Allah katanya, padahal cuma cari alasan buat nafsunya. Aku menarik napas, hendak menolak lagi, tiba-tiba Harun berdiri dan berkata lantang, “Baginda, izinkan hamba bicara.”
“Izin?” Hadi bingung menatap adiknya.
“Hamba tahu dia bukan perempuan harem, lagipula sudah...,” Harun berkata setengah, tapi dengan mimik ambigu yang membuat semua orang paham.
Aku nyaris menangis, lelaki sombong ini menolongku atau malah menjebak?
Hadi berpikir sejenak, lalu tertawa, “Dia memang bukan milikku, tak perlu diambil hati. Harun, kau masih muda, kakak malah lengah, sudah, kuberikan saja perempuan ini padamu.”
Apa, aku diberikan pada dia?
“Terima kasih, Baginda.” Harun menerima tanpa ragu dan sama sekali tak menghiraukan tatapanku.
Begitulah, sandiwara konyol ini selesai. Kasihan aku, mendadak jadi barang yang dioper-oper. Inikah yang disebut malapetaka yang jatuh dari langit?
“Xiaoyin, malam ini kau bereskan barangmu dan pindah ke istana Harun,” kata Olayah begitu keluar dari aula.
“Hah, serius? Aku tak mau pindah...” Aku pening dan pusing.
“Buruk rupa, kau kira aku suka? Kalau bukan karena kakakku, aku tak mau repot-repot menolongmu!” Harun mendengus.
“Burung hantu, siapa suruh kau bantu? Aku bisa urus sendiri!” Aku melotot padanya.
“Sudahlah,” sela Olayah, “Sekarang Baginda sudah memutuskan, kita tak bisa melawan, Xiaoyin, kau sementara tinggal di tempat Harun. Nanti kalau Baginda lupa, kita pikirkan lagi. Kalau kau ingin pulang ke Tang, aku akan urus kepulanganmu.”
Yang Li mengangguk, “Untuk saat ini memang itu cara terbaik.”
“Baiklah, anggap saja aku sedikit dirugikan,” aku mengalah.
“Dirugikan? Aku yang dirugikan, tiba-tiba dapat beban!” Harun langsung menyela.
Pria ini benar-benar selalu membuatku ingin meninju seseorang.
Kamar Harun pun sangat mewah, di mana-mana karpet, tirai, dan alas duduk yang indah. Lantai kamar tidur dari marmer, perabotan klasik bertatahkan benang emas, pintu dan jendela dihiasi tirai sutra. Di tengah ada ranjang marmer putih bermata permata, safir, rubi, dan batu giok besar, dilapisi kelambu tipis yang digantung dengan untaian mutiara. Benar-benar rumah orang kaya baru!
“Sudah aku di sini, tolong tunjukkan kamar tidurku?” aku bertanya dingin.
“Kamar tidurmu?” Ia menyipitkan mata, “Tentu saja di sini.”
“Apa? Jangan coba-coba macam-macam!” Aku refleks mundur selangkah.
Ia mendengus, “Sudah kubilang, aku tak berminat pada buruk rupa macam kau.” Ia menundukkan suara, “Kakak selalu curiga, kalau kita tak sekamar nanti jadi masalah, anggap saja sandiwara.”
“Baiklah, sial betul nasibku.” Aku melirik kamar, “Cuma satu ranjang?”
Dia tertawa geli, “Jelas.”
“Maksudmu...” Aku menunjuk ranjang, masa harus tidur sekasur?
“Kau, buruk rupa, mana pantas tidur denganku. Tentu kau tidur di lantai,” jawabnya tanpa belas kasihan.
Duh, pria macam apa ini, tak tahu sopan santun sama sekali.
“Aku juga tak sudi tidur dengan burung hantu,” gumamku, lalu membaringkan diri di atas karpet Persia yang empuk, ternyata lumayan nyaman.
Ia melepas ikat kepala kufiyah, rambut cokelat panjangnya tergerai bagai air terjun, berkilau lembut diterpa cahaya lampu. Wajahnya yang seperti pahat tampak makin tampan, memadukan kegagahan Arab dan keindahan Yunani dalam diri yang misterius.
“Nanti malam, jangan coba-coba naik ke ranjangku,” ejeknya.
“Siapa juga yang mau!” Aku melotot, sok tampan saja sudah sombong.
“Sungguh, aku agak khawatir kau bakal naik ranjangku,” katanya malah.
“Aku lebih baik melompat ke jurang daripada ke ranjang burung hantu!” Aku membalik badan, malas meladeni. Pria aneh.
Kudengar ia meniup lilin dan rebahan di ranjang. Aku hendak memejamkan mata, tiba-tiba sesuatu yang lembut dilempar ke tubuhku. Kuteraba, ternyata selimut tipis nan halus.
“Kalau sampai kau sakit, kakakku pasti marah,” katanya dingin.
Aku menarik selimut dan menutup badan. Huh, aku tak sudi berterima kasih padanya!