Bab 40: Kegunaan Luar Biasa dari Dupa
Akhir Juli, malam telah larut dan suasana begitu hening. Di pegunungan tandus di pinggiran utara, bayangan pepohonan menari, tirai malam berlapis-lapis menyelimuti sekeliling. Tiba-tiba, dari dalam sebuah gua tersembunyi, melayang keluar sebuah arca dewa Sungai Lin Agung yang dipahat dari kayu hitam, jatuh di atas batu yang agak datar di dekatnya.
Itu adalah jiwa Li Leng yang keluar dari raganya, kembali hadir di tempat itu untuk sekali lagi melakukan komunikasi secara spiritual.
Begitu berhasil terhubung dengan alam kedewaan Sungai Lin Agung, sensasi yang akrab langsung menyelimuti dirinya.
"Memohon angin dan hujan selaras, negeri makmur rakyat sejahtera..."
"Memohon kemurahan hati Dewa Sungai, turunkanlah hujan!"
"Kapal akan terbalik, ampunilah kami..."
Doa dan harapan manusia, emosi yang saling bertautan, suara-suara layaknya gumaman mimpi yang mengalir membawa kekuatan spiritual yang agung, menyebar ke segala penjuru bak gelombang air.
Aroma dupa dan uang kertas persembahan menguar, abu sisa pembakaran beterbangan laksana kupu-kupu di angkasa.
Li Leng menunggu hingga pikirannya sedikit jernih, lalu segera melancarkan jurus baru yang belakangan ia selami, yakni Ilmu Seribu Aroma Penakluk Segala.
Aroma Penolak Kejahatan—itulah keajaiban yang diciptakannya!
Seiring aliran kekuatan spiritual, tubuh rohnya mulai mengeluarkan asap.
Dari kakinya, tangannya, seluruh tubuh hingga kepala, semua mengeluarkan asap.
Tak lama, sekujur tubuhnya terselimuti kabut, seperti benang naga dan ular yang mengalir, seluruh dirinya bagai kayu bakar yang menyala.
Di tengah pancaran kekuatan mental yang membara, terlahirlah inti aroma penolak kejahatan.
Li Leng, dengan Ilmu Seribu Aroma Penakluk Segala, mampu membayangkan aroma lalu mewujudkan esensinya; dalam beberapa waktu terakhir, ia telah sepenuhnya menguasai sifat aroma baru ini dan menggabungkannya ke dalam kemampuan sulap aromanya.
Kini, ia telah menguasai empat esensi utama: Aroma Kepercayaan, Aroma Pengembali Jiwa, Aroma Pembentuk Awan, dan Aroma Penolak Kejahatan, serta ratusan aroma lain termasuk bahan spiritual seperti Kayu Jari Iblis dan beragam rempah dengan sifat mentalnya masing-masing.
Menurut pemahamannya, Aroma Penolak Kejahatan ini termasuk pada tingkat keempat, yakni aroma sumber niat, dan berkaitan erat dengan kekuatan spiritual.
Tanpa guru, ia mampu menciptakan Ilmu Seribu Aroma Penakluk Segala, bahkan langsung menerobos hingga tingkat kelima, dan telah melangkah ke ambang tingkat keempat, tak heran jika ia mampu menguasai perubahan sifat ini.
Namun, kemampuan ini sebenarnya setara dengan tingkat kultivasi Nascent Soul, dan hanya mereka yang berbakti luar biasa yang mampu mencapainya.
Tak lama, aroma penolak kejahatan menyebar di sekelilingnya membentuk medan kental yang memenuhi ruang kosong.
Li Leng segera merasakan perbedaan yang sangat jelas.
"Pengaruh dari kekuatan doa menjadi jauh lebih ringan!"
Ia meresapi dalam-dalam, suara-suara gumaman yang muncul silih berganti seolah sudah menjauh, bahkan aroma dupa dan uang kertas pun nyaris tak tercium.
Aroma penolak kejahatan sungguh istimewa, bagi mata manusia biasa asapnya tampak biasa saja, seolah tak ada kegunaan; namun ketika dirasakan dengan kesadaran spiritual, ada perlindungan, dan ketika diamati dalam ranah kedewaan, lebih menyerupai kabut pekat.
Aroma ini memang tidak menambah kekuatan jiwa seperti Aroma Kepercayaan, namun mampu menghalangi pengaruh mental; dengan ini, semua media penampakan dewa pun tertutupi.
Li Leng menggerakkan aroma tersebut dengan kekuatan pikirannya, membagikannya secara merata di permukaan tubuh, membentuk semacam pelindung yang menyelubungi seluruh tubuh.
Inilah trik kecil yang baru-baru ini ia temukan.
Esensi Ilmu Seribu Aroma Penakluk Segala adalah menggunakan kekuatan mental untuk menciptakan variasi, mengubah segala aroma dunia menjadi esensi yang diinginkan; jika diresapi kekuatan mental sendiri, masa aktifnya bisa jauh lebih lama.
Setelah itu, Li Leng melakukan percobaan baru.
Roh tubuhnya naik, seolah melangkah ke sebuah gerbang kosong yang seperti tirai air, seluruh dirinya masuk ke dalam alam kedewaan.
Ini adalah kali pertama baginya memasuki alam tersebut dengan tubuh rohnya sendiri, bukan sekadar menyalurkan seberkas kesadaran seperti biasanya.
"Banyak sekali kekuatan doa di sini..."
Begitu masuk, Li Leng merasa sekujur tubuhnya seolah direndam arus dingin, suara-suara gumaman itu mendadak meningkat.
Aroma dupa dan uang kertas pun kembali menyeruak.
"Ku mohon, Dewa Sungai, hentikan kekuatanmu..."
"Persembahan dan pengorbanan, mohon Dewa Sungai melindungi kami..."
"Berbelaskasihlah, jangan turunkan hujan lagi..."
Hati Li Leng tetap tenang, memanfaatkan kejernihan pikirannya dan medan aroma penolak kejahatan untuk menahan pengaruh itu.
Tak lama, ilusi suara gaib yang mengganggu pikirannya pun semakin lemah, aroma itu sirna.
"Ternyata benar-benar berguna!"
Li Leng merasa dirinya telah menemukan kunci. Menambah ketebalan kabut aroma penolak kejahatan memang efektif.
Ia lalu mencoba menyerap sedikit kekuatan doa dari celah lemah yang sengaja ia ciptakan, seperti dulu untuk memperkuat mentalnya.
Jika dulu kekuatan doa ibarat air lumpur kuning yang keruh, kini setelah disaring aroma penolak kejahatan, berubah menjadi air jernih yang segar—kandungan kekuatan mental tetap sama, namun lebih murni dan mudah diserap.
Esensi kekuatan berwujud aroma keemasan itu tampak luar biasa, kekuatannya setara dengan tingkat sumber niat yang sempurna.
Artinya, butuh tingkat keempat Ilmu Seribu Aroma Penakluk Segala untuk bisa menciptakan aroma ini secara mental.
Kemampuan ini berbeda dengan menghasilkan kekuatan doa sendiri.
Yang pertama adalah memadukan berbagai aroma dunia menjadi esensi untuk penguatan jiwa, sedang yang kedua benar-benar berasal dari diri sendiri.
Tak lama, Li Leng merasa semangatnya bertambah.
"Tepat sekali, meski harus repot menyaring dan memurnikan, efisiensinya tetap sangat tinggi.
"Walau aku bisa menciptakan Aroma Kepercayaan untuk berlatih, jika menghitung proses penumbuhan dan penyerapan, sebenarnya jauh lebih efisien memakai kekuatan doa yang sudah ada."
Li Leng memang sudah lama memperhatikan kekuatan doa di sini, namun karena tak menempuh jalur dewa, ia tak pernah benar-benar mencoba.
Kini, akhirnya ia menemukan cara cerdik.
Dengan pikirannya, Li Leng melahap kekuatan doa hasil penyaringan itu. Dalam waktu sekejap, ia telah menyerap berjuta-juta benang esensi aroma.
Sebanyak itu melebur ke dalam jiwanya, Li Leng seperti orang mabuk, suara-suara samar mulai mengisi pikirannya.
"Memohon angin dan hujan selaras..."
Muncul lagi!
Li Leng terhenyak dan langsung sadar.
"Inilah batas yang bisa kutanggung sekarang."
"Ke depannya, jika terus melatih kemampuan aroma penolak kejahatan, meningkatkan efek penyaringan, mungkin bisa menyaingi bahan spiritual—tapi untuk saat ini, jangan serakah."
Diam-diam ia mengingat batasannya, menahan godaan untuk terus menyerap, lalu mengerahkan seluruh kekuatan mental untuk mempertebal pelindung aromanya, menolak kekuatan doa lain yang tampak mudah didapat itu.
"Sebaiknya kucoba hal lain."
Sambil memurnikan kekuatan doa yang sudah terserap, Li Leng bersiap melakukan percobaan baru.
Kali ini terkait dengan kekuasaan dewa.
Akhir-akhir ini, ia banyak mendapat informasi dan tahu bahwa Dewa Sungai Lin Agung sebenarnya hanya nama tanpa wujud, tubuh aslinya telah lama tiada.
Siapa pun yang punya kemampuan bisa mencuri kekuatan doa bahkan kekuasaan kedewaan itu.
Sesaat kemudian, ia memusatkan kekuatan di sekitar tubuh rohnya, mencoba memanfaatkan kekuasaan dewa untuk membuka gerbang antara alam kosong dan dunia nyata.
Begitu gelombang air beriak, suasana di sekeliling berubah; pemandangan yang semula tertutup kabut tebal seketika menjadi terang dan jelas.
Kini, ia merasakan segala sesuatu bukan dengan mata, melainkan dengan kesadaran spiritual—seperti biasa ketika keluar dari raga.
Ia pun kembali ke dunia nyata.
Namun anehnya, Li Leng tidak lagi berada di pegunungan utara, melainkan di dalam istana, di halaman tempat tinggal selir cantik itu.
Koneksi spiritual dewa, benar-benar tanpa batas!
"Benar-benar berhasil, ini memang kekuasaan yang dimiliki oleh ranah dewa itu!"
"Meski jauh lebih repot dibanding teknik perpindahan besar, pada tahapku sekarang, sungguh luar biasa!"
Kegembiraan membuncah di hati Li Leng.
Saat terakhir kali meneliti ranah dewa, ia sudah menyadari fenomena ini, namun tak menyangka percobaannya akan semudah ini.
"Kaum sesat sepertinya sudah lama meneliti Dewa Sungai Lin Agung, punya resonansi dari pemujaan bertahun-tahun."
"Kaum abadi selalu melawan, Divisi Cerita Aneh pun memburu iblis dan memutus kekuasaan dewa itu."
"Tapi sekarang, mungkin aku bisa memanfaatkan celah sebelum orang lain sadar..."
"Bagaimanapun, aku hanya rakyat biasa, tak punya bakat abadi dan sudah dicap demikian. Jika ketahuan, risikonya terlalu besar."
"Bukan berarti harus menyembunyikan semuanya, tapi paling tidak harus punya kekuatan melindungi diri sebelum mengambil keputusan."
Penuh pertimbangan, Li Leng melangkah masuk ke halaman dengan mantap, perlahan niat membunuh mulai muncul di matanya.
Benar, malam ini ia datang untuk membasmi iblis.
Karena sering berkeliaran malam-malam menyelidiki berbagai rahasia, juga berkat dokumen dan informasi Divisi Cerita Aneh, Li Leng tahu rencana kaum sesat mulai memasuki tahap penting.
Belakangan, ia telah memastikan keberadaan Lin Rou Niang dan nenek tua dari Sekte Hantu, memastikan mereka masih di desa Sumber Air, maka ia memutuskan untuk menyingkirkan selir cantik itu agar tak jadi ancaman lagi.
Jika tidak, ayah mertuanya, Raja Xuanxin, bisa saja terseret ke dalam bahaya yang sebenarnya tak perlu.
Namun, saat Li Leng menembus dinding, tiba-tiba ia mencium aroma dupa dan uang kertas yang sangat dikenalnya.
"Apa ini..."
Baru saja keluar dari ranah dewa, mengapa kini...
Seketika Li Leng sadar, ia pun mengaktifkan esensi aromanya, lalu menghubungkan pikirannya ke ranah dewa.
Kali ini meski tanpa patung dewa, Li Leng sudah menghafal betul caranya masuk, apalagi selir cantik itu kerap berdoa di sini, berkomunikasi dengan kaum sesat di balik layar. Dengan mudah ia menemukan ranah dewa Sungai Lin Agung dan kembali ke alam tersebut.
Melihat kamar itu dari dalam ranah dewa, segalanya berubah.
Lampu ruangan sudah padam, hanya lampu taman dari luar yang menyinari kamar, membuatnya terang benderang. Selir cantik itu muncul, menampakkan bayangan yang meski samar tetap jelas, bahkan wajahnya pun bisa terlihat buram.
Itu adalah proyeksi tubuh mentalnya di ranah dewa, menandakan hubungan dirinya dengan tempat ini sudah sangat dalam.
Tatapan Li Leng mengeras, ia kembali mencium aroma lain selain kekuatan doa.
"Seseorang pernah masuk ke sini, Lin Rou Niang dan nenek tua Sekte Hantu itu—baru saja!"
Li Leng mendekat ke ranjang, mengamati kondisi wanita itu, menemukan tubuh mentalnya sedang memancarkan getaran stabil, seolah tengah bermimpi.
Aroma Lin Rou Niang dan nenek tua itu hilang di sini—mereka telah masuk ke dalam mimpi.
Saat itu, Li Leng bisa saja langsung membunuh selir cantik itu di dunia nyata, namun jika demikian, roh mimpi Lin Rou Niang dan nenek tua yang merasuk akan lenyap juga—hanya mengulang apa yang pernah terjadi pada kaum sesat itu.
Kini, pengetahuan Li Leng tentang mimpi sudah jauh berkembang, muncul ide nekat di benaknya.
"Menangkap roh mimpi mereka dan menguasai kesadaran mereka, menjadikannya alat pengikat mimpi!"
Dalam Kitab Rahasia Hantu tercatat teknik hitam yang memanfaatkan sisa jiwa dan niat orang lain—jauh lebih ampuh dibanding darah, kekuatan, atau tanggal lahir.
Itu adalah kekuatan mental, bagian dari jiwa!
Menghancurkan roh mimpi lawan hanya akan membuat mereka terbangun dari mimpi buruk, tapi jika bisa menangkapnya, inisiatif sepenuhnya di tangan sendiri...
Soal takut ditangkap balik, Li Leng sama sekali tidak khawatir, karena dengan kemampuan keluar dari raga, ia sangat percaya diri.
Tanpa ragu, Li Leng membagi seberkas kesadarannya masuk ke dalam mimpi selir cantik itu.
Dalam sekejap, ia mendapati dirinya berada di sebuah istana megah.
Bangunan kuno bergaya negeri seberang, tersusun dari batu gunung hitam raksasa—kokoh dan agung.
Tak banyak ornamen rumit, cukup mendongak, ia bisa merasakan tiga sosok: satu duduk, dua berdiri, sedang bercakap-cakap di sana.
Yang duduk adalah Lin Rou Niang, kini mengenakan jubah panjang agung, didominasi warna emas dan merah, dengan mahkota besar di kepala, memancarkan aura misterius dan khidmat.
Wajahnya yang cantik tertutup kerudung merah seperti sutra, tak bisa dirasakan, tapi Li Leng dari jarak belasan meter bisa mengenali aromanya dengan jelas.
Li Leng jadi penasaran, "Kenapa berdandan seperti ini?"
Selama mengawasi Lin Rou Niang di desa Sumber Air, Li Leng belum pernah melihatnya memakai pakaian semacam itu.
Padahal, wajah Lin Rou Niang memang cenderung lembut dan cantik, pesonanya lebih menonjol daripada wibawanya, tapi dengan jubah itu, seluruh auranya berubah drastis.
Namun, jubah itu jelas bukan pakaian sehari-hari, dan Li Leng semakin merasa pernah melihat gaya seperti ini.
Tiba-tiba, Li Leng tersentak, teringat pada jubah yang dikenakan patung dewa Sungai Lin Agung.
Bukan karena modelnya sama, tapi dominasi warna emas dan merah serta nuansa khidmatnya sangat mirip.
Itu adalah jenis jubah dewa yang biasa terlihat di patung dan lukisan, hanya saja patung dewa mengenakan versi pria, sementara Lin Rou Niang mengenakan versi wanita.
"Ini jelas versi perempuan dari Dewa Sungai Lin Agung, jangan-jangan..."
Sebuah pemikiran melintas di benaknya.
"Siapa itu?" Dengan jubah dewa lengkap, Lin Rou Niang langsung menyadari kehadiran asing, menoleh, membuat seluruh aula terasa lebih terang oleh tatapannya.
Di bawah tiang-tiang besar, di depan tangga, bermunculan sosok-sosok samar tanpa wajah.
Di udara pun melayang roh dendam transparan, bersama kabut putih seperti asap, hawa dingin menembus tulang menjalar ke segala penjuru.